Fungsi Kebudayaan Bagi Perkembangan Hidup Manusia Dalam Masyarakat
Hasil karya manusia akan melahirkan suatu kebudayaan atau teknologi yang nantinya akan berguna untuk melindungi ataupun membantu masyarakat untuk mengolah alam yang bisa bermanfaat bagi masyarakat itu sendiri.
Secara khusus Kebudayaan berfungsi:
- Suatu hubungan pedoman antar manusia atau kelompok
- Wadah untuk menyalurkan perasaan-perasaan dan kehidupan lainnya
- Pembimbing kehidupan manusia
- Pembeda antar manusia dan binatang
- Hidup lebih baik, Lebih manusiawi dan berperikemanusiaan Secara umum pengertian kebudayaan adalah merupakan jalan atau arah didalam bertindak dan berfikir untuk memenuhi kebutuhan hidup baik jasmani maupun rohani
- PENGARUH KEBUDAYAAN DALAM KOMUNIKASI
1. Membership & Reference Groups
Pada
dasarnya kita adalah keanggotaan dari banyak grup sosial yang berbeda
baik itu keluarga, kelas sosial (mahasiswa/pelajar), etnik, gender,
kelompok pekerjaan, atau bangsa negara. Ada beberapa faktor yang
mendorong seseorang untuk mau merawat atau menjaga keanggotaannya (membership) :
a. Ia
mendapatkan keuntungan positif dari keanggotaannya. Seperti, ia menjadi
bangga, itu yang menyebabkannya menjadi loyal, kepuasan (puas menjadi
anggota), kebanggaan yang lebih (eksklusif), mendapat status dan teman.
b. Ia cenderung menghindari isolasi sosial yang bisa menjadikannya tidak memiliki ikatan grup yang kuat.
c. Ada
keterbatasan-keterbatasan atau aturan yang berlaku padanya sehingga ia
tidak bisa keluar dari kelompok tersebut. (mis. Kita tidak bisa memilih
etnik dan ras kita)
Reference Groups merupakan
kelompok dimana kita melihatnya sebagai tuntunan atau pedoman bagaimana
kita bertingkah laku. Selain itu, semakin dekat nilai-nilai yang ada
dan sama dengan kelompok itu maka kita akan merasa dekat dengan mereka.
Masyarakat
Madura secara umum yang juga memiliki pola hidup kolektivis mereka akan
selalu berbuat sesuai dengan lingkungannya. Sebab jika mereka
bertingkah diluar kesepakatan yang ada dalam kelompoknya maka mereka
akan mendapatkan sangsi sosial, seperti dikucilkan atau menjadi bahan
omongan orang lain. Contohnya seperti dalam acara pernikahan dan
kematian sebagaimana disebutkan pada bagian sebelumnya.
Selain
itu, penduduk Madura yang hidup di Madura rata-rata adalah sanak
saudara sendiri. Dan hampir di setiap tiga atau empat rumah dapat
dipastikan akan terdapat mushalla yang berdiri disana. Sehingga
kegiatan-kegiatan keagamaan akan mudah didapati di sekitar rumah
penduduk, karena seringnya kegiatan itu dilaksanakan. Dan di saat itulah
mereka bisa berkumpul di samping dengan sanak keluarga juga dengan
tetangga, teman, atau sahabat.
Adapun
orang-orang Madura yang hidupnya di luar Madura atau sebagai
perantauan, mereka juga akan cenderung mencari kelompoknya sendiri,
yakni sesama orang Madura. Karena ketika mereka telah bertemu dengan
orang yang berasal dari Madura, mereka akan merasa memiliki kedekatan
emosional tersendiri, sekalipun orang itu bukan keluarga kandungnya akan
tetapi mereka tetap menganggap orang-orang Madura yang mereka temui
sebagai “taretan dhibi’” atau saudara sendiri. Hal itulah yang
akan membuat orang Madura bangga dan senang ketika bertemu sesama orang
Madura, sebab mereka akan menjaga satu sama lain, terlebih juga saling
menjaga harga diri mereka agar tidak terinjak oleh kelompok lain.
2. Minority & Majority
Ada 5 karakter dalam kelompok minoritas ini :
a. Anggota kelompok minoritas akan diperlakukan berbeda dari kelompok mayoritas.
b. Anggota-anggota dari kelompok minoritas memiliki fisik dan karakter kultur berbeda dengan kelompok mayoritas.
c. Karena minoriti ini secara karakter berbeda dengan mayoritas maka keanggotaannya tidak secara suka rela.
d. Anggota dari kelompok minority cenderung akan bekerja sama atau menikah dengan keanggotaan kelompok yang sama.
e. Anggota
dari kelompok minoritas sadar bahwa jika mereka sendiri statusnya di
bawah mayoritas, sehingga kekuatan solidaritasnya kuat.
Penduduk
Madura yang hidup di pulau Madura adalah mayoritas namun, jika
dibandingkan dengan kelima karakter di atas penduduk mayoritas Madura
tetap menghargai dan menerima orang-orang yang berasal dari luar Madura,
dan mereka pun memperlakukannya sama seperti orang Madura yang lain
pada umumnya, terlebih lagi jika orang yang berasal dari luar Madura itu
menikah dengan seseorang yang berasal dari Madura.
Ketika
orang-orang Madura yang berada di perantauan, mereka menjadi minoritas
namun masih tetap memiliki kelompok sendiri yang anggota-anggotanya
berasal dari Madura juga. Akan tetapi, di samping memiliki kelompok
sendiri mereka juga tergabung dalam kelompok lain. Dan jika dalam
kategori yang keempat disebutkan bahwa anggota dari kelompok minority
cenderung akan bekerja sama atau menikah dengan keanggotaan kelompok
yang sama. Hal itu tidak berlaku untuk semua orang Madura, sebab masih
banyak orang Madura yang loyal dengan kelompoknya yang lain sekalipun
anggota dari kelompok itu bukan sesama orang Madura, dan masih banyak
pula orang-orang Madura yang menikah dengan orang yang berasal dari luar
Madura. Hal itu dikarenaka orang Madura adalah orang-orang yang
kolektivis maka mereka lebih mengutamakan kerja sama diantra kelompok
daripada fungsi dan tanggung jawab individu.
3. Islam & Non Islam : siapa yang mayoritas dan minoritas?
Mayoritas
penduduk Madura adalah orang-orang yang beragama Islam kurang lebih
sebanyak 97-99 persen. Oleh karena itu, penanaman aqidah dan keberagaman
sudah tertanam kuat dalam diri orang-orang Madura sejak kecil. Semenjak
kecil mereka sudah belajar agama Islam baik dari orang tuanya, di
sekolah madrasah pada siang hari dan di musholla pada malam harinya.
Nilai-nilai agama Islam tercermin dalam kebijakan-kebijakan dan
nilai-nilai budaya Madura. Salah satunya seperti ungkapan “Buppa’, Babu, Guruh, Ratoh”,
ketaatan dan kepatuhan kepada ayah, ibu, guru dan pemerintah. Dalam
Islam taat kepada kedua orang tua merupakan suatu keharusan dan
kewajiban, karena keridhaan Allah swt, terletak pada keridlaan mereka
berdua. Jika mereka tidak patuh ucapan atau sebutan kedurhakaanlah yang
nantinya akan ditimpakan pada mereka. Dan sekalipun ada sedikit
perbedaan, jika dalam Islam ibulah yang disebutkan pertama kali, namun
dalam masyarakat Madura ayah yang disebutkan pertama kali. Hal itu
karena hierarki ayah memang diposisikan lebih tinggi daripada ibu.
Posisi ayah dalam sosiokultural masyarakat etnik Madura memegang kendali
dan wewenang penuh lembaga keluarga sebagai sosok yang diberi amanah
untuk bertanggung jawab dalam semua kebutuhan rumah tangganya.
Penduduk
Madura yang beragama selain agama Islam seperti Kristen atau Kong Hu
Chu hanya sebagian kecil saja. Namun hal itu tidak menjadikan masalah
untuk orang-orang Madura sendiri, karena hampir tidak ditemui
permasalahan atau konflik yang berasal karena perbedaan agama.
4. Identitas Sosial
Secara
konstan, kita cenderung mendefinisikan atau menempatkan diri kita pada
dunia dimana kita hidup. Menurut Grieve dan Hogg, orang mengimplikasikan
kategori sosial bagi dirinya dan orang lain untuk mengklarifikasikan persepsi
mereka tentang dunia dan tempat tinggal sosial mereka. Dan identifikasi
ini akan mengurangi ketidakpastian subjektif kita.
Ada beberapa dimensi identitas sosial, yaitu:
a. Voluntary – Desirable Identities
Identitas
yang kita pilih dan yang kita pikir bahwa hal itu bagus. Misalkan
seperti: bagian dari agama, anggota kelompok, keanggotaan dari partai
politik, suami, istri, ibu,ayah, murid.
b. Voluntary – Undesirable Identities
Identitas
yang kita pilih tapi menurut kita itu adalah sesuatu yang negatif.
Misalkan seperti: pemabuk, narkoba, gay/lesbian, perokok, transgender
(waria).
c. Involuntary – Desirable
Identitas
yang tidak bisa kita pilih dan menurut kita itu bagus, seperti:
etnis/ras, anak dari seorang perempuan/laki-laki, laki-laki, perempuan.
d. Involuntary – Undesirable
Identitas yang tidak bisa kita pilih dan kita pikir itu negatif, seperti: orang buta, tuli, tidak mampu, tua.
Pada
dasarnya yang membuat perilaku kita berbeda dengan orang lain ketika
berkomunikasi adalah terletak pada sejauh mana kita mengetahui identitas
budaya dan etnik kita.
Jika
identitas budaya dan etnik kita lemah, maka keduanya tidak bisa
mempengaruhi perilaku kita. Akan tetapi jika identitas budaya dan etnik
kita kuat, maka perilaku kita sangat berbudaya dan etnik tergantung
situasi.
Orang
Madura pada umumnya berperilaku sesuai dengan budaya dalam kelompoknya.
Jika mereka tidak berperilaku sesuai dengan keinginan kelompoknya maka
mereka akan mendapatkan sangsi sosial. Masyarakat Madura cenderung masih
memegang budaya mereka dalam melakukan sesuatu, kerena mereka
menjadikan budaya aslinya sebagai acuan dalam bertindak. Selain karena
dalam budaya Madura sendiri juga telah banyak nilai-nilai Islam yang
tertanam di dalamnya.
sumber: pengantar ilmu komunikasi, wiryanto
Tidak ada komentar:
Posting Komentar