Senin, 19 Desember 2011

BAB: 8 KOMUNIKASI DAN BUDAYA

  • Fungsi Kebudayaan Bagi Perkembangan Hidup Manusia Dalam Masyarakat

 Didalam kebudayaan terdapat pola – pola perilaku yang merupakan cara – cara manusia untuk bertindak sama dan harus diikuti oleh semua anggota masyarakat, artinya kebudayaan merupakan suatu garis pokok tentang perilaku yang menetapkan peraturan – peraturan mengenai bagaimana masyarakat harus bertindak, bagaimana masyarakat melakukkan hubungan dengan orang lain atau bersosialisasi, apa yang harus dilakukan, apa yang dilarang dan sebagainya.
Hasil karya manusia akan melahirkan suatu kebudayaan atau teknologi yang nantinya akan berguna untuk melindungi ataupun membantu masyarakat untuk mengolah alam yang bisa bermanfaat bagi masyarakat itu sendiri.
Secara khusus Kebudayaan berfungsi:
  1. Suatu hubungan pedoman antar manusia atau kelompok
  2. Wadah untuk menyalurkan perasaan-perasaan dan kehidupan lainnya
  3. Pembimbing kehidupan manusia
  4. Pembeda antar manusia dan binatang
  5. Hidup lebih baik, Lebih manusiawi dan berperikemanusiaan Secara umum pengertian kebudayaan adalah merupakan jalan atau arah didalam bertindak dan berfikir untuk memenuhi kebutuhan hidup baik jasmani maupun rohani
  • PENGARUH KEBUDAYAAN DALAM KOMUNIKASI

1. Membership & Reference Groups
Pada dasarnya kita adalah keanggotaan dari banyak grup sosial yang berbeda baik itu keluarga, kelas sosial (mahasiswa/pelajar), etnik, gender, kelompok pekerjaan, atau bangsa negara. Ada beberapa faktor yang mendorong seseorang untuk mau merawat atau menjaga keanggotaannya (membership) :
a. Ia mendapatkan keuntungan positif dari keanggotaannya. Seperti, ia menjadi bangga, itu yang menyebabkannya menjadi loyal, kepuasan (puas menjadi anggota), kebanggaan yang lebih (eksklusif), mendapat status dan teman.
b. Ia cenderung menghindari isolasi sosial yang bisa menjadikannya tidak memiliki ikatan grup yang kuat.
c. Ada keterbatasan-keterbatasan atau aturan yang berlaku padanya sehingga ia tidak bisa keluar dari kelompok tersebut. (mis. Kita tidak bisa memilih etnik dan ras kita)
Reference Groups merupakan kelompok dimana kita melihatnya sebagai tuntunan atau pedoman bagaimana kita bertingkah laku. Selain itu, semakin dekat nilai-nilai yang ada dan sama dengan kelompok itu maka kita akan merasa dekat dengan mereka.
Masyarakat Madura secara umum yang juga memiliki pola hidup kolektivis mereka akan selalu berbuat sesuai dengan lingkungannya. Sebab jika mereka bertingkah diluar kesepakatan yang ada dalam kelompoknya maka mereka akan mendapatkan sangsi sosial, seperti dikucilkan atau menjadi bahan omongan orang lain. Contohnya seperti dalam acara pernikahan dan kematian sebagaimana disebutkan pada bagian sebelumnya.
Selain itu, penduduk Madura yang hidup di Madura rata-rata adalah sanak saudara sendiri. Dan hampir di setiap tiga atau empat rumah dapat dipastikan akan terdapat mushalla yang berdiri disana. Sehingga kegiatan-kegiatan keagamaan akan mudah didapati di sekitar rumah penduduk, karena seringnya kegiatan itu dilaksanakan. Dan di saat itulah mereka bisa berkumpul di samping dengan sanak keluarga juga dengan tetangga, teman, atau sahabat.
Adapun orang-orang Madura yang hidupnya di luar Madura atau sebagai perantauan, mereka juga akan cenderung mencari kelompoknya sendiri, yakni sesama orang Madura. Karena ketika mereka telah bertemu dengan orang yang berasal dari Madura, mereka akan merasa memiliki kedekatan emosional tersendiri, sekalipun orang itu bukan keluarga kandungnya akan tetapi mereka tetap menganggap orang-orang Madura yang mereka temui sebagai “taretan dhibi’” atau saudara sendiri. Hal itulah yang akan membuat orang Madura bangga dan senang ketika bertemu sesama orang Madura, sebab mereka akan menjaga satu sama lain, terlebih juga saling menjaga harga diri mereka agar tidak terinjak oleh kelompok lain.
2. Minority & Majority
Ada 5 karakter dalam kelompok minoritas ini :
a. Anggota kelompok minoritas akan diperlakukan berbeda dari kelompok mayoritas.
b. Anggota-anggota dari kelompok minoritas memiliki fisik dan karakter kultur berbeda dengan kelompok mayoritas.
c. Karena minoriti ini secara karakter berbeda dengan mayoritas maka keanggotaannya tidak secara suka rela.
d. Anggota dari kelompok minority cenderung akan bekerja sama atau menikah dengan keanggotaan kelompok yang sama.
e. Anggota dari kelompok minoritas sadar bahwa jika mereka sendiri statusnya di bawah mayoritas, sehingga kekuatan solidaritasnya kuat.
Penduduk Madura yang hidup di pulau Madura adalah mayoritas namun, jika dibandingkan dengan kelima karakter di atas penduduk mayoritas Madura tetap menghargai dan menerima orang-orang yang berasal dari luar Madura, dan mereka pun memperlakukannya sama seperti orang Madura yang lain pada umumnya, terlebih lagi jika orang yang berasal dari luar Madura itu menikah dengan seseorang yang berasal dari Madura.
Ketika orang-orang Madura yang berada di perantauan, mereka menjadi minoritas namun masih tetap memiliki kelompok sendiri yang anggota-anggotanya berasal dari Madura juga. Akan tetapi, di samping memiliki kelompok sendiri mereka juga tergabung dalam kelompok lain. Dan jika dalam kategori yang keempat disebutkan bahwa anggota dari kelompok minority cenderung akan bekerja sama atau menikah dengan keanggotaan kelompok yang sama. Hal itu tidak berlaku untuk semua orang Madura, sebab masih banyak orang Madura yang loyal dengan kelompoknya yang lain sekalipun anggota dari kelompok itu bukan sesama orang Madura, dan masih banyak pula orang-orang Madura yang menikah dengan orang yang berasal dari luar Madura. Hal itu dikarenaka orang Madura adalah orang-orang yang kolektivis maka mereka lebih mengutamakan kerja sama diantra kelompok daripada fungsi dan tanggung jawab individu.
3. Islam & Non Islam : siapa yang mayoritas dan minoritas?
Mayoritas penduduk Madura adalah orang-orang yang beragama Islam kurang lebih sebanyak 97-99 persen. Oleh karena itu, penanaman aqidah dan keberagaman sudah tertanam kuat dalam diri orang-orang Madura sejak kecil. Semenjak kecil mereka sudah belajar agama Islam baik dari orang tuanya, di sekolah madrasah pada siang hari dan di musholla pada malam harinya. Nilai-nilai agama Islam tercermin dalam kebijakan-kebijakan dan nilai-nilai budaya Madura. Salah satunya seperti ungkapan “Buppa’, Babu, Guruh, Ratoh”, ketaatan dan kepatuhan kepada ayah, ibu, guru dan pemerintah. Dalam Islam taat kepada kedua orang tua merupakan suatu keharusan dan kewajiban, karena keridhaan Allah swt, terletak pada keridlaan mereka berdua. Jika mereka tidak patuh ucapan atau sebutan kedurhakaanlah yang nantinya akan ditimpakan pada mereka. Dan sekalipun ada sedikit perbedaan, jika dalam Islam ibulah yang disebutkan pertama kali, namun dalam masyarakat Madura ayah yang disebutkan pertama kali. Hal itu karena hierarki ayah memang diposisikan lebih tinggi daripada ibu. Posisi ayah dalam sosiokultural masyarakat etnik Madura memegang kendali dan wewenang penuh lembaga keluarga sebagai sosok yang diberi amanah untuk bertanggung jawab dalam semua kebutuhan rumah tangganya.
Penduduk Madura yang beragama selain agama Islam seperti Kristen atau Kong Hu Chu hanya sebagian kecil saja. Namun hal itu tidak menjadikan masalah untuk orang-orang Madura sendiri, karena hampir tidak ditemui permasalahan atau konflik yang berasal karena perbedaan agama.
4. Identitas Sosial
Secara konstan, kita cenderung mendefinisikan atau menempatkan diri kita pada dunia dimana kita hidup. Menurut Grieve dan Hogg, orang mengimplikasikan kategori sosial bagi dirinya dan orang lain untuk mengklarifikasikan persepsi mereka tentang dunia dan tempat tinggal sosial mereka. Dan identifikasi ini akan mengurangi ketidakpastian subjektif kita.
Ada beberapa dimensi identitas sosial, yaitu:
a. Voluntary – Desirable Identities
Identitas yang kita pilih dan yang kita pikir bahwa hal itu bagus. Misalkan seperti: bagian dari agama, anggota kelompok, keanggotaan dari partai politik, suami, istri, ibu,ayah, murid.
b. Voluntary – Undesirable Identities
Identitas yang kita pilih tapi menurut kita itu adalah sesuatu yang negatif. Misalkan seperti: pemabuk, narkoba, gay/lesbian, perokok, transgender (waria).
c. Involuntary – Desirable
Identitas yang tidak bisa kita pilih dan menurut kita itu bagus, seperti: etnis/ras, anak dari seorang perempuan/laki-laki, laki-laki, perempuan.
d. Involuntary – Undesirable
Identitas yang tidak bisa kita pilih dan kita pikir itu negatif, seperti: orang buta, tuli, tidak mampu, tua.
Pada dasarnya yang membuat perilaku kita berbeda dengan orang lain ketika berkomunikasi adalah terletak pada sejauh mana kita mengetahui identitas budaya dan etnik kita.
Jika identitas budaya dan etnik kita lemah, maka keduanya tidak bisa mempengaruhi perilaku kita. Akan tetapi jika identitas budaya dan etnik kita kuat, maka perilaku kita sangat berbudaya dan etnik tergantung situasi.
Orang Madura pada umumnya berperilaku sesuai dengan budaya dalam kelompoknya. Jika mereka tidak berperilaku sesuai dengan keinginan kelompoknya maka mereka akan mendapatkan sangsi sosial. Masyarakat Madura cenderung masih memegang budaya mereka dalam melakukan sesuatu, kerena mereka menjadikan budaya aslinya sebagai acuan dalam bertindak. Selain karena dalam budaya Madura sendiri juga telah banyak nilai-nilai Islam yang tertanam di dalamnya.
sumber: pengantar ilmu komunikasi, wiryanto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar